21.12.12

Realitas Media dan Konstruksi Sosial Media Massa


A.    IDENTITAS BUKU
Identitas buku yang saya gunakan sebagai alat untuk memahai “Realitas Media dan Konstruksi Sosial Media Massa” adalah sebagai berikut:
Judul                       : Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa (Sebuah Studi Critical Discourse Analysis terhadap Berita-berita Politik).
Pengarang             : Ibnu Hamad.
Penerbit                 : Jakarta, Granit.
Tahun Terbit          : Mei 2004.
Cetakan, Halaman : I, xix + 243 hlm.
“Dalam kehidupan politik, media massa mampu menciptakan opini publik. Pemberitaan tentang politik (actor, partai politik, dan peristiwa politik) senantiasa mengundang perhatian, tanggapan, dan bahkan tindakan politik. Hal ini disebabkan oleh strategis dan besarnya kemampuan media dalam mengonstruksikan realitas politik.”
B.     DESKRIPSI ISI BUKU
Buku yang berjudul “Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa (Sebuah Studi Critical Discourse Analysis terhadap Berita-berita Politik)” ini terdiri dari tujuh bab yaitu: media massa dan konstruksi realitas politik (sebuah kerangka teori); analisis wacana berita politik (pendekatan dan metodologi); interaksi pers dan politik dalam panggung sejarah politik Indonesia; partai politik dan pemilu (sejarah dan profil); media dan pengonstruksian parpol (hasil analisi wacana kritis); menelisik wacana politik (menyingkap sikap politik media); masa depan analisis wacana kritis berita politik (kesimpulan, implikasi dan epilog).
Peristiwa politik selalu menarik perhatian media massa sebagai bahan liputan, dikarenakan dewasa ini politik berada di era mediasi dan peristiwa politik selalu mempunyai nilai berita. Alat-alat yang digunakan untuk mengonstruksikan realitas politik yaitu languageof politic, framing strategies, dan agenda setting.
Secara global ahirnya berita politik senantiasa dimulai dengan peristiwa politik baik yang menyangkut organisasi maupun actor politik. Pengonstrksian realitas politik hingga membentuk makna dan citra tertentu pertama-tama tergantung pada faktor sistem media massa yang berlaku; pembuatan wacana politik dalam sistem media libertarian akan lebih mudah dilakukan dibandingkan dalam sistem otoritarian. Proses pembuatan berita politik juga dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal media serta perangkat pembuatan wacananya sendiri.    
Salah satu faktor yang memberi pengaruh signifikan terhadap proses pembuatan atau pengonstruksian realitas politik hingg ajenis opini yang terbentuk adalah sistem media massa dimana sebuah media menjalankan operasi jurnalistiknya.
Keikutsertaan media dalam dalam mengubah sistem politik tiada lain adalah melalui pembentukan opini publik atau penapat umum., yaitu upaya membangunkan sikap dan tindakan khalayak mengenai sebuah masalah politik atau actor politik. Sejauh ini komunikasi politik sering diidentikkan dengan propaganda, karena didalamnya hanya berisi muatan-muatan kepentingan.
Proses konstruksi realitas pada prinsipnya setiap upaya “menceritakan” (konseptualisasi) sebuah peristiwa, keadaan, atau benda tak terkecuali mengenai hal-hal yang berkaitan dengan politik adalah usaha mengonstruksikan realitas. Pembuatan berita di media massa pada dasarnya adalah penyusunan realitas-realitas hingga membentuk sebuah cerita atau wacana yang bermakna. Dengan demikian seluruh isi media tidak lainadalah realitas yang tealah dikonstruksikan  (constructed reality) dalam bentuk wacana yang bermakna.
Dalam proses konstruksi realitas, bahasa adalah unsur utama untuk menceritakan realitas dan berperan sebagai alat konseptualisasi dan alat narasi. Persoalan makna dalam penggunaan bahasa berpengaruh terhadap konstruksi realitas. Bahasa dalam hal ini digunakan untuk mencerminkan realitas sekaligus menciptakan realitas. Tiga tindakan yang dilakukan komunikator massa tatkala melakukan konstruksi realitas: pemilihan symbol (fungsi bahasa), pemilihan fakta yang akan disajikan (strategy framing), dan kesediaan memberi tempat (agenda setting).
Sistem politik yang diterapkan oleh sebuah negara ikut menentukan mekanisme kerja media massa negara itu: memengaruhi cara media massa tersebut mengonstruksikan realitas. Dalam mengonstruksikan realitas politik, faktor ideologi yang dimiliki media dan yang dianut khalayak memengaruhi bidikan pasar media itu. Selain itu adalah kongsi antara penguasa dan pengusaha serta kepentingan-kepentingan yang bersifat tumpang tindih.
Dampak dari keseluruhan proses konstruksi realitas politik adalah munculnya opini publik mengenai kehidupan politik. Dalam proses pengonstruksian realitas politik ini, media massa memiliki dua kemungkinan: menjadi saluran politik yang merefleksikan peristiwa-peristiwa politik yang terjadi atau menjadi agen politik dimana  terutama para jurnalisnya bertindak selaku komunikator politik dlam kategori profesional. Bagi suatu kekuatan politik, sikap sebuah media, entah netral atau partisan, adalah menentukan, terutama untuk tujuan-tujuan pencitraan dan opini publik. Sebab, disatu pihak ujung dari komunikasi politik adalah mengenai citra ini, yang banyak bergantung pada cara media mengonstruksikan kekuatan politik itu.
Fokus riset buku ini adalah pengonstruksian partai politik oleh surat kabar dengan metode analisis wacana kritis atau CDA (Critical Discourse Analysis). Paradigma penelitiannya adalah paradigma kritikal (meliihat bahwa pengonstruksian suatu realitas itu dipengaruhi oleh faktor kesejarahan dan kekuatan-kekuatan soisial, budaya dan ekonomi-politik media yang bersangkutan).
Berdasarkan hasil kajian literatur dan pengamatan, jauh hari sebelum Pemilu 1999 dilangsungkan, media telah menjadikan parpol sebagai objek liputan utama. Setiap saat perkembangan politik selalu up to date¸ bahkan disediakan rubric khusus untuk pemberitaan tersebut. Dalam buku ini juga menampilkan hasil temuan riset dengan CDA diantaranya pada media cetak seperti, Haluan, Kompas, Republika, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Rakyat Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Jawa Post, bali Post, dan Fajar, dengan menyajikan deskripsi (text analysis), interpretasi (processing analysis), dan eksplanasi (social analysis) dari masing-masing media.
Umumnya pers di Indonesia lebih suka mengonstruksikan partai politik dari perspektif kepentingan kelompok (partai dan politikus tertentu) di satu sisi dan kepentingan pasar (ekonomi) disisi lain, serta belum menempatkan liputannya dalam pengembangan demokrasi.
Dari penelitian pengarang, dapat disimpilkan beberapa hal sebagai berikut:
Ditinjau dari paradigm kritis serta kerangkan analisis CDA, bahwa realitas yang teramati (virtual reality) pada level deskripsi terdapat realiats kesejarahan dan pengaruh kekuatan soisial, budaya dan ekonomi-politik yang berpengaruh atas pengonstruksian partai-partai politik pada level interpretasi dan eksplanasi.
Secara umum tipologi pengonstruksian parpol terbagi atas dua jenis yang saling terkait, yaitu berdasarkan opini publik yang dibangun untuk tiap-tiap partai, dan segi kepentingan ideology, idealis, politik, dan kepentingan ekonomi masing-masing media terhadap partai. Motif ideologis bisa terbaca dari teks-teks yang diberitakan oleh media.  
Proses pengonstruksian parpol dipengaruhi kekuatan internal (ideologis, idealis) dan kekuatan eksternal (pasar, situasi politik).
Ditimbang dari paradigm kritikal, pengostruksian parpol oleh media belum menopang peningkatan kualitas demokrasi, sebab masih terlampau didominasi oleh berita tentang peristiwa dan figur partai.
Untuk dapat menungkapkan “fakta sosial” dibalik teks, diperlukan methodologi yang berganda (multi-level analisis). Yaitu dibagi menjadi beberapa tahap:
Pertama, mengidentifikasi tanda-tanda yang terdapat dalam teks. Untuk ini diperlukan satu metode analisis teks.
Kedua, memberi makna terhadap ttanda-tanda tersebut. Dalam hal ini diperlukan metode interpretasi yang berbasis teoritis.
Ketiga, memerkirakan motif atau tujuan si pembuat teks yang tersimpan dalam teks yang dibuat. Dalam hal ini diperlukan metode prediksi tujuan secara sistematis.
Keempat, mengetahui faktor-faktor mengapa si pembuat teks menggunakan tanda-tanda tertentu dalam teksnya. Hal ini bisa digali melalui pemahaman secara empatik, atau pengamatan bahkan wawancara.
Hali ini dilakukan agar ditemukannya fakta sosial dibalik peristiwa-peristiwa komunikasi lainnya.
Dilihat dari sisi sosial, media masih cenderung lebih suka meliput atau mengekspos peristiwa (event) dari pada program partai. Ini menandkan bahwa media massa belum turut serta secara aktif membangun kualitas kehidupan politik.
Dalam buku ini juga disertakan framing dari beberapa koran yang dijadikan alat untuk memahami konstruksi realitas politik dalam media massa (surat kabar).    
C.    ANALISIS
1.   Teori
Teori konstruksi sosial (social construction) Berger dan Lukmann merupakan teori sosiologi kontemporer yang berpijak pada sosiologi pengetahuan. Dalam teori ini terkandung pemahaman bahwa kenyataan dibangun secara sosial, serta kenyataan dan pengetahuan merupakan dua istilah kunci untuk memahaminya. Kenyataan adalah suatu kualitas yang terdapat dalam fenomena-fenomena yang diakui memiliki keberadaan (being)-nya sendiri sehingga tidak tergantung kepada kehendak manusia; sedangkan pengetahuan adalah kepastian bahwa fenomen-fenomen itu nyata (real) dan memiliki karakteristik yang spesifik (Berger, 1990:1).
Oleh karena konstruksi sosial merupakan sosiologi pengetahuan maka implikasinya harus menekuni pengetahuan yang ada dalam masyarakat dan sekaligus proses-proses yang membuat setiap perangkat pengetahuan yang ditetapkan sebagai kenyataan. Sosiologi pengetahuan harus menekuni apa saja yang dianggap sebagai pengetahuan dalam masyarakat.
Sosiologi pengetahuan, yang dikembangkan Berger dan Luckmann, mendasarkan pengetahuannya dalam dunia kehidupan sehari-hari masyarakat sebagai kenyataan. Bagi mereka (1990:31-32), kenyataan kehidupan sehari-hari dianggap menampilkan diri sebagai kenyataan par excellence sehingga disebutnya sebagai kenyataan utama (paramount). Berger dan Luckmann (1990:28) menyatakan dunia kehidupan sehari-hari menampilkan diri sebagai kenyataan yang ditafsirkan oleh manusia. Maka dari itu, apa yang menurut manusia nyata ditemukan dalam dunia kehidupan sehari-hari merupakan suatu kenyataan seperti yang dialaminya.
Teori kultivasi adalah teori sosial yang meneliti efek jangka panjang dari televisi pada khalayak. Teori ini merupakan salah satu teori komunikasi massa yang dikembangkan oleh George Gerbner dan Larry Gross dari University of Pennsylvania.
Gerbner dan Stephen Mirirai (1976) mengemukakan bahwa TV sebagai media koomunikasi massa telah dibentuk sebagai simbolisasi lingkungan umum atas beragam masyarakat yang diikat menjadi satu, bersosialisasi, dan berperilaku.
Menurut teori kultivasi ini, televisi menjadi media atau alat utama dimana para penonton televisi belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak pemirsa tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak pemirsa dengan televisi, mereka belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai (nilai sosial) serta adat dan tradisinya.
2.   Studi Kasus
“Konstruksi Pandangan Masyarakat Tentang Pacaran: Studi Terhadap Pelajar SMP”
(Ide Cerita Film Televisi (FTV) yang Ditayangkan di SCTV)

-          Deskripsi Film Televisi (FTV) yang Ditayangkan di SCTV secara Umum
Saat ini FTV yang ditayangkan di SCTV terhitung tiga sampai lima kali dalam setiap harinya. Berikut jadwal penayangan dalam setiap harinya:

Hari
Durasi I
(00.00-00.30)
Durasi II
(10.00-11.00)
Durasi III
(10.00-12.00)
Durasi IV
(12.30-14.00)
Durasi V
(12.30-14.30)
Durasi VI
(14.03-14.30)
Durasi VII
(17.30-19.00)
Durasi VIII
(22.33-00.00)
Jumlah
Tayang
Senin
-
-
-
-
4x
Selasa
-
-
-
-
4x
Rabu
-
-
-
5x
Kamis
-
-
-
-
-
3x
Jum’at
-
-
-
-
-
3x
Sabtu
-
-
-
-
-
-
2x
Minggu
-
-
-
-
-
3x
Dari jam tayang tersebut waktu yang paling banyak digunakan adalah durasi nomor III, IV, dan VII. Kebanyakan para penonton memanfaatkan acara FTV sebagai pelengkap pada saat istirahat atau bahkan menjadi kebutuhan, missal menyaksikan artis idolanya acting.
Beberapa contoh judul FTV antara lain; “Guruku Jago Kungfu”, “Bukan Siswi Biasa”, “Cinta Bersemi di Putih Abu-abu”, “Undangan Kuning”, dsb.
Dari segi ide cerita, hampir semua FTV tersebut mengangkat tema besar mengenai ‘Cinta’ dengan menggunakan latar daerah-daerah tertentu lengkap dengan menampilkan budayanya. Misal Bali, Jogjakarta, Bandung, dsb.
Konflik yang diangkat dalam kebanyakan cerita FTV adalah seputar kehidupan sehari-hari dengan menggunakan cerita-cerita fiktif. Berikut analisis (secara umum) dari FTV yang ditayangkan di SCTV.
Kebanyakan ide cerita tentang cinta yang di tayangkan, menggunakan konsep yang menampilkan perbedaan status sosial. Ceritanya hanya seputar seorang cewek mengejar cowok idamannya atau sebaliknya dan tidak jauh dari dunia remaja. Yaitu masa-masa sekolah atau kuliah, dengan pelengkap mata pencaharian pengusaha atau pemilik perusahaan dan sebaliknya. Hampir semua ending dari FTV yaitu jadian, dengan konflik seputar proses sebelum jadian atau perkenalan.
Selain ide tersebut, yaitu menceritakan tentang perjalanan cinta sepasang kekasih dengan konflik perselingkuhan, pengkhianatan, atau kesetiaan. Dalam FTV, cinta digambarkan menjadi sesuatu yang agung, yang diaktualisasikan dengan kalimat-kalimat “aku sayang kamu” atau “aku cinta kamu” dimana hal itu mengawali terjadinya suatu hubungan (pacaran). FTV juga menggambarkan tayangan yang menceritakan bahwa mengejar cinta sejati atau orang yang disukai sebagai suatu keharusan.
Dalam hal ini pacaran digambarkan sebagai sepasang kekasih yang saling menyayangi dan mengikat diri dengan lisan (ungkapan-ungkapan, ‘nembak’), kemudian menghabiskan hari-hari bersama dengan jalan-jalan di mall dan bergandengan tangan atau makan di restoran berduaan.
Pacaran digambarkan sebagai sebuah hak manusia, yang bebas mencintai lawan jenisnya tanpa mengenal batas. Seperti majikan pacaran dengan pembantunya, guru dengan muridnya, bos dengan karyawannya, penjual dengan pembelinya, atau setingkat seperti sesama teman, teman sekelas, dan dsb.
Hal ini tidak akan menjadi suatu masalah apabila dampaknya tidak merugikan. Akan tetapi, apabila dilihat dari segi waktu penayangannya adalah waktu dimana semua umur bisa menonton, baik dewasa, remaja, bahkan anak-anak.
-          Realitas
Saat ini penyusun mengambil satu obyek, yaitu para pelajar Sekolah Menengah Pertama dalam lingkup umum (Indonesia). Oleh karena keterbatasan waktu dan tenaga, penyusun tidak melakukan studi kasus di daerah tertentu.
Realita saat ini, berdasarkan data yang diambil dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (th. 2010) menyebutkan 62,7 % remaja SMP di Indonesia sudah tidak perawan, 93,7 % siswa SMP dan SMA pernah melakukan ciuman, 21,2 % remaja SMP mengaku pernah aborsi, dan yang lebih seru adalah 97 % remaja SMP dan SMA pernah melihat film porno.
Source: www.planetremaja.com
Selain itu berdasarkan fakta yang terjadi di situs jejaring sosial (facebook), penyusun menyimpulkan dari semua teman (di jejaring sosial) baik cewek atau cowok, sudah pernah atau sedang menjalin hubungan (pacaran) dengan lawan jenis. Hal ini disimpulkan berdasarkan status hubungan di info, status di dinding, bahkan foto-foto berduaan dengan pasangan masing-masing.
Dalam dunia nyata, saat ini banyak siswa-siswi SMP yang memang mengakui pacaran, tentunya dengan berbagai alasan. Kebanyakan alasan mereka adalah sebagai motivasi atau penyemangat belajar. Dalam kenyataannya memang ada beberapa yang benar-benar menjalankan pacaran dengan sehat (tanpa ciuman, freesex, dll.), dan tidak sedikit pula yang menjalin hubungan tidak sehat. Dalam hal ini penyusun hanya membatasi pada gaya pacaran mereka. Seperti komitmen untuk pacaran, panggilan untuk menyebut pacar, kegiatan selama pacaran, dsb.   
-          Analisis
Penyusun berargumen bahwa acara FTV yang ditayangkan di SCTV berpengaruh (negatif) pada pelajar SMP. Yaitu:
1.    Menginspirasi untuk berpacaran.
2.    Membentuk paradigma bahwa pacaran adalah hal biasa yang lazim dijalankan setiap orang yang saling suka.
3.    Memengaruhi gaya pacaran mereka, seperti panggilan “Beb, Sayang, Cinta, Ayang, dll.”, bergandengan tangan, berpelukan, ciuman, kencan di berbagai tempat, memberi kejutan, surprice, dsb.           
Dilihat menggunakan teori kultivasi, pelajar SMP yang menonton FTV setiap minggu minimal sekali selama beberapa bulan, mampu membentuk persepsi bahwa pacaran adalah hal yang sudah biasa bahkan menjadi suatu kebutuhan. Mereka merasa percaya diri apabila memiliki pacar cantik atau ganteng. Pacaran menunjukkan bahwa mereka tidak kuper (kurang pergaulan). Tidak anya sebatas itu, mereka menganggap bahwa ide cerita yang sebenarnya hanya fiktif belaka dinilai seolah kenyataan yang terjadi pada para pemainnya. Mereka menjadikan referensi untuk menjaga keharmonisan pasangannya seperti yang dilakukan di FTV.
Sedangkan melalui teori konstruksi sosial, fenomena seperti penjelasan diatas merupakan pergeseran budaya dimana pacaran yang awalnya merupakan suatu hubungan yang hanya dilakukan oleh orang dewasa, kini menjadi lazim dilakukan siapa saja.
Realitas gaya pacaran yang terjadi di kota-kota menjadi ide untuk para produser memproduksi FTV. Tentunya dilengkapi dengan imajinasi dari sutradara, tidak murni sebuah realita di masyarakat. Ide cerita yang dituangkan dalam bentuk adengan (visual) dan monolog / dialog (verbal) kemudian diinternalisasi oleh para penonton menjadi suatu persepsi. Diantaranya persepsi bahwa ‘pacaran adalah sesuatu yang wajar.’
Banyaknya penonton yang kemudian satu per satu merealisasikan ide cerita tersebut, mendorong persepsi masing-masing individu. Lama kelamaan lingkungan memengaruhi masyarakat mengikuti alur tersebut. Realitas si masyarakat yang awalnya memandang ‘pacaran adalah khusus remaja dewasa’ beralih menjadi ‘pacaran adalah bebas dilakukan siapa saja’. Terlepas dari sehat tidaknya pacaran.
Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa ide cerita film televisi (FTV) yang ditayangkan di SCTV telah mengonstruksi pandangan masyarakat tentang pacaran, yang dapat dijelaskan dalam tahapan sebagai berikut:
-          Tahap menyiapkan materi konstruksi: yaitu berupa usaha bersama atau kerjasama antara pihak yang terlibat dalam pembuatan maupun penayangan FTV di SCTV.
-          Tahapan sebaran konstruksi: yaitu melalui penayangan yang dilakukan berkali-kali dalam setiap hari, meskipun dengan beraneka macam judulnya dan ide ceritanya.
-          Pembentukan Konstruksi Realitas: yaitu pembenaran bahwa seolah cerita yang ada benar-benar realita, setelah itu mulai memasukkan dalam kehidupan nyata dengan didukung lingkungan masyarakat yang memiliki persepsi sama.
D.    KESIMPULAN
 Nilai yang dikonstruksi oleh media massa adalah nilai yang bersumber dari redaktur dan para desk media massa. Kalau dikatakan, bahwa media massa adalah replikasi dari masyarakat disekitarnya, maka artinya replikasi itu diwakilkan oleh nilai-nilai dan norma yang ada pada redaktur dan para desk media massa tertentu. 
Nilai yang dikonstruksipun tidak selalu bermanfaat positif, tetapi juga negatif. Secara tidak langsung konstruksi memang terbentuk setelah adanya persepsi dan efek yang terjadi. Suatu realitas di masyarakat tidak bisa disebut sebagai konstruksi apabila hanya satu dua orang saja yang mendukung. Lingkungna sangat berengaruh dalam pembentukan kostruksi realitas sosial, karena disitulah terjadinya konstruksi.
Realita banyaknya para pelajar SMP yang pacaran merupakan salah satu contoh dari konstruksi pandangan masyarakat tentang pacaran yang dibentuk melalui Film Televisi yang ditayangkan di SCTV.
Yang menjadi sorotan utama adalah haruskan media massa mengorbankan pihak tertentu hanya untuk kepentingan tertentu? Masyarakat disuguhkan pesan yang yang seharusnya tidak dikonsumsi untuk umum. Untuk menghindari hal ini diperlukan adanya kerjasama untuk saling mendukung agar kecerdasan anak bangsa yang merata bisa terwujud.    


signature

2 komentar:

esy fitriana mengatakan...

hai fatimah,,, wah trima kasih, sangat bermanfaat tulisannya.. :) salam kenal zakariya komunikasi uin sa

esy fitriana mengatakan...

boleh minta nomerny gk,, aku pengen diskusi n sharing terkait mata kuliah komunikasi. krim ke emailq ya. esyfitriana@gmail.com

Poskan Komentar

newer post older post Home