8.3.15

Cerpen: Ulat Bulu Pak Lurah

0 komentar
Ulat Bulu Pak Lurah
Oleh: Nur Fatimah

Lesung sudah beradu dengan palu. Sesekali terdengar alunan merdu. Lebih merdu bila dilengkapi syair kemakmuran, seharusnya. Tentu pagi buta ini jadi lebih indah. Dua menit lima menit masihlah, kudapati kemerduan dari padu padan biji beras yang mulai lepas dari busananya. Namun sayang, itu tak lama. Kini syair berwujud angkara. Melukiskan garangnya perut-perut lapar. Dan alunan itu berubah memekikkan telinga. Menyayat setiap hati yang mendengar bunyi kemiskinan.
“Mak[1], Didin lapar. Kok, putih-putihnya belum kelihatan sih, Mak.” Perut mungil itu nampaknya mulai protes. Melaporkan bahwa tak ada lagi yang bisa dikerjakan lambung. Hanya gerakan sia-sia. Ya, tak ada yang bisa diremas sejak kemarin.
“Sabar tho, Le[2]. Makmu juga udah sekuat tenaga ini.” Sang ibu mencoba tenangkan anaknya yang mulai rewel.
“Perut Didin udah krucuk-krucuk. Cepet, Mak!”
“Kamu ini, hlo. Mak juga lapar. Ribut aja dari tadi. Nggak tak kasih makan baru tahu rasa kamu!”
Seketika anak itu lari menyambangi sungai kecil. Ikut membasahi rerumputan dengan tangisan sumbang. Tangisan pertanda peliknya masalah kehidupan. Tapi masih ada yang bisa disyukuri. Masih ada hamparan sawah hijau yang bisa dinikmati. Seraya berharap seketika itu makanan tersaji didepannya. Ia hanya bisa merebahkan rasa laparnya pada batang pohon beringin yang basah. Ya, basah karena guyuran nikmat Tuhan semalam. Tak sadar ia tertidur dalam rebahannya.
***
Didin merasa dirinya berada di dunia lain. Ia mendapati sinar matahari dari sela-sela jendela kamarnya. Tapi tak berwarna kuning. Ia tak percaya, sinar matahari berubah menjadi biru. Terangnya dunia ini sungguh tiada tara. Sesaat cahaya itu sempat menyilaukan mata, tapi dalam lima kerdipan mata saja, ia merasa biasa saja. Tak ada bedanya dengan warna kuning.
Belum tegak ia beranjak dari tempat tidur, seseorang mengetuk pintu. Tanpa ia persilahkan masuk, orang itu langsung nyelonong menemuinya. Tunggu dulu. Orang? Bukan, deh. Didin melihat sosok itu seperti         tokoh yang ada di komik kesukaannya sewaktu ia baca di Perpustakaan Keliling (Perpusling).
Kok, seperti Alien ya?,” protesnya dalam hati. Entah Didin menyebutnya apa. Yang jelas ia melihatnya sama persis di komik itu. Ia tak henti-hentinya memerhatikan makhluk itu dari atas sampai bawah. Tubuhnya mungil, gendut, orang desa menyebutnya dengan istilah benthek. Tapi, tak ada daun telinganya. Rambutnya juga merah menyala. Persis seperti kobaran api di tungku Mak’e. Jarinya sangat panjang, lebih panjang dari lengannya.
Hlo? Jari-jari kakinya mana?!” Tak sadar tiba-tiba ia melontarkan kata-kata itu keras. Hampir berteriak.
“Bos Wah ini ngomong apa, sih? Buruan mandi. Agenda kita hari ini padat. Nanti pakai baju ini aja ya. Warna putih lebih cocok di pakai di hari yang muram ini. Ok, Let’s go!”
Ternyata makhluk itu berbahasa sama dengannya. Syukurlah. Tapi, kembali ia memerhatikan ujung kaki sosok yang dari tadi berdiri di depannya. Ia tak mendapati jari, tapi lebih seperti roda. Ya, ia ingat. Mirip dengan roda rak pakaiannya. Ia mencari disekelilingnya. Tak ada.
Hello! Ngelamun aja nih si Bos dari tadi. Ngelihatin apa sih?”
“Oh. Itu. Apa. Emm... Oke. Saya mandi. Tapi, serius ini baju saya?”
“Ya serius lah, Bos. Emang baju siapa lagi? Buruan gih. Yang lain udah nunggu.”
“Mau kemana?”
“Bos... Kamu kesambet apa, sih? Ya kampanye, lah. Ngapain lagi? Pencoblosan udah tinggal ngitung pake jari. Nih, satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan. Buruan!”
“Oh. Ya. Aku mandi.”
Didin merasa semakin gila. Cuaca terang atau kelewat terang, makhluk itu bilang muram. Baju merah, dibilang putih. Jari kaki, jadi roda. Jari tangan juga ada delapan. Bos? Ia baru sadar dari tadi di panggil “Bos”. Bos dari mana, orang dia cuma anak-anak, pikirnya. 
“Tuhan... Apa-apaan ini?” Perlahan ia beranjak mendekati cermin. Memastikan dirinya tak berubah menjadi orang lain. Benar saja. Ia berbeda. Perutnya tak lagi lapar. Tubuhnya besar dan kekar. Kulitnya hitam pekat. Rambutnya ikal, panjang, dan entah siapa yang menyematkan ikat rambut disana.
“Syukurlah. Aku masih normal. Aku punya jari kaki. Jari tanganku sepuluh tubuhku... Bukankah aku anak-anak? Kenapa sekarang aku lebih mirip dengan bapak-bapak? Siapa ini? Bapakku kah?” Ia pingsan.
***
“Bos? Baik-baik saja?” Tanya makhluk tadi.
“Ha? Aku...baik-baik saja.” Ia kaget. Seketika ia berada ditengah kerumunan banyak orang. Dengan bentuk dan warna kulit berbeda-beda. Merah, hijau, kuning, coklat, hitam, hampir semua warna ada. Tapi, tak ada satupun yang mirip dengan warna kulitnya. Sorot matanya berkeliling dan berhenti di satu spanduk. Luas sekali. Seluas lapangan di Simpang Lima Semarang. Terpampang nyata wajahnya dan tertulis WAHYUDIN.
“Itu namaku!”
“Itu memang namamu, Bos. Siapa lagi?” jelas salah satu makhluk di sampingnya.
“Bos kenapa sih, dari tadi aneh.”
“Kamu kasih makan apa kemarin, Rul!?” Tanya salah satu makhluk berkulit biru.
“Tau tuh, Sawitri.” Jawab makhluk berkulit kuning, yang ternyata namanya Asrul.
“Makanan biasanya, kok.
“Oh... Jadi, kamu Sawitri, kamu Rul siapa?” Tanya Didin.
“Asrul. Kenapa?”
“Tidak. Memastikan saja.” Didin agak ketakutan. Semua suara makhluk disekelilingnya memekikkan telinga. Singkat, ia mengambil keputusan untuk mengikuti adegan ini. Tak tahu, entah muaranya dimana. Entah kapan berakhirnya. 
***
Arak-arakan dimulai. Menurutku ini bukan pawai atau kampanye. Aku yang katanya calon Kepala Desa Antah Berantah hanya duduk dan diam di singgasana yang sengaja dibuat di atas mobil pick up. Tak ada yang diserukan. Hanya pembagian rupiah saja. Nilai yang cukup fantastis. Seratus ribu rupiah. Kalau dikasihkan ibu tentu sangat senang. Ia bisa membeli satu ton beras. Buat makan pastinya. Dan tentu ia tak akan kelaparan.
“Mak! Mak’e dimana!?” Teriaknya histeris.
“Ada apa Bos? Mak’e? Mak’e apa?” Sahut Sawitri.
“Mak’e. Ibuku. Aku kangen Mak’e. Mak... Kamu dimana?”
Ih. Bos udah gila ya. Mana ada Mak’e. Udah ah. Main-mainnya nggak usah diterusin. Kelewatan nih si Bos.”
Didin diam. Dia berfikir kenapa semua orang aneh. Dia memerhatikan dengan betul orang-orang disepanjang jalan. Mereka siap menerima lembaran rupiah itu. Kurus-kurus. Tapi, hampir semua wujud mereka mirip dengannya. Mobil berhenti. Saat itu juga pandanagn Didin terfokus pada sosok nenek tua renta. Ia merasa tak asing dengannya. Tak perlu menunggu komando ia melompat dari singgasana.
“Siapa kamu?!”. Didin bingung. Kenapa pertanyaan itu yang terlontar dari mulutnya.
“Tumirah, Tuan. Ampuni saya Tuan. Saya tidak macam-macam. Rumah saya diujung jalan sana Tuan. Tepat sebelah sungai.” Jawab nenek itu dengan ketakutan.
Didin semakin kebingungan. Kenapa dia berubah menjadi garang. Dia takut api kembali keluar dari mulut naganya. Buru-buru ia naik kembali ke singgasana.  
***
Untung Marwadi, calon lurah nomor 2. Gerah dengan aksi WAHYUDI. Ia dan tim suksesnya berencana mengadakan kampanye dengan menggelar orkes dangdut dan wayang kulit di lapangan. Gayuh Utari, Calon Lurah nomor urut 3, mendengar kabar strategi kampanye Untung dan Wahyudi. Ia merasa geli dan meremehkan strategi mereka.
Orkes dangdut berlangsung, dan tampak disebelahnya panggung wayang kulit yang masih kosong belum ada alat-alat wayang. Tampak hadir para warga dan didominasi para pemuda. Untung sambutan sekaligus membuka acara. Ditengah-tengah acara penonton protes karena tak ada lembaran rupiah yang diterima. Ia gelagapan dan menjanjikan setelah acara selesai ia akan membagikan uang. Tak peduli ada adzan, acara tetap berlangsung, sampai larut malam.
Penonton dari kalangan usia tua protes. Mereka menagih wayang kulit yang ternyata gagal. Dan serentak semua penonton kembali menagih rupiah yang Untung janjikan. Ia malah menaggapi dengan kampanye untuk memilih dirinya sebagai lurah. Penonton marah dan hampir merusak panggung orkes dangdut. Tim sukses Utari tanggap memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ia naik panggung dan menjelaskan serentetan ocehan tentang politik, demokrasi, money politic, korupsi dan posisi lurah yang seharusnya, tanpa memromosikan Utari. Dia hanya berusaha membuka pikiran rakyat dan membimbing mereka untuk menjustis bahwa strategi Wahyudi dan Untung adalah kotor dan nantinya berdampak buruk. Susasana seketika menjadi sunyi, diikuti satu persatu langkah kaki meninggalkan lapangan.
***
Didin ternyata juragan beras. Ia memanfaatkan hidup rakyat yang bergantung pada berasnya. Siapa yang tak memilih, tak ada beras baginya seumur hidup. Kejam memang.
Benar saja. Nenek-nenek yang ditemuinya saat kampanye tempo hari, berseberangan dengannya. Tak ada beras untuknya. Ia tak mau memilih Lurah dengan kampanye penindasan.
Ajal menghampiri nenek itu. Didin kaget. Batinnya membawa langkah kakinya untuk mendatangi nenek itu. Ia miris. Tubuhnya dikerumuni ulat bulu. Hampir menjadi kain kafan baginya.
Entah kenapa. Didin tergerak mengibaskan ulat yang menutupi wajah nenek itu. Ia kembali histeris. Ia dapati wajah Mak’enya disana. Seketika  sekujur tubuhnya gatal. Ia pingsan.     
***
Didin seolah berada di ambang waktu. Antara dunia nyata dan alam bawah sadar. Bagai seorang profesor yang meneliti ini itu, dengan tangkas ia mengartikan apa saja yang baru dialaminya.
Ia mengerti kenapa tak ada daun telinga singgah disana. Ya. Mereka tak mau mendengar keluh kesah rakyat. Jari panjang? Tentu. Mengambil bagian yang seharusnya bukan hak mereka. Pendek? Pola pikirnya sangat sederhana dan egois. Berwarna seperti bunglon? Fleksibel pada siapa saja yang mereka temui demi melancarkan visi korupsi. Jari tangan delapan? Mereka tak bisa lengkap menghitung porsi hak dan kewajiban. Kaki beroda? Siap menindas rakyat dengan halus tanpa bekas tapi bernoda.
Ia belum sempat menyelesaikan teka-tekinya. Seakan mengiyakan saja. Muncul wajah para para pemerintah desa tepat dipelupuk mata. Ia merasa tubuhnya mulai mengambang perlahan-lahan, hingga akhirnya lenyap menyisakan seberkas cahaya.
***
Ia terbangun. Tubuhnya dipenuhi ulat bulu. Ya, dengan beraneka ukuran dan warna. Sama seperti mimpinya.
“Aaaa... Tidaaakkk!!!” Anak itu nyemplung di sungai. Teriakannya menyatu dengan riak air yang beradu dengan batu hitam, kuning, merah, dan putih.
Seketika aku tertawa menyaksikan pemandangan ini berputar di layar angkasa. Tanpa batas tanpa celah menyusuri perasaan. Seakan ikut mengiyakan segala yang baru saja aku saksikan.






Batang, 2013



[1] Mak’e. Panggilan anak pada ibunya. Biasanya oleh anak-anak di desa.
[2] Tole. Panggilan ibu pada anak laki-lakinya.

newer post

23.2.14

Naskah MC Peringatan Maulid Nabi SAW

2 komentar
السلام عليكم ورحمة الله و بر كاته

Muqodimah
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ 
Kepada yang kami hormati para alim, ulama, sesepuh, dan pinisepuh Desa Sembung, wabilkhusus Almukarom walmukhtarom  Bp. KH Drs. Azizudin Mujadzat dari Pekalongan
Yang kami hormati Muspika Kecamatan Banyuputih
Yang kami hormati Kepala Desa Sembung Bp. Suryanto   beserta jajarannya
Yang kami hormati para tokoh masyarakat Desa Sembung
Yang kami hormati Panitia Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 Hijriah yang dalam hal ini dilaksanakan oleh ARSEM Anak Remaja Sembung
Yang kami hormati seluruh warga Desa Sembung, bapak-bapak., ibu-ibu, para remaja, adik-adik dan semua hadirin yang berbahagia
الحمد لله رب العالمين marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan nikmat, rahmat, dan karunia yang luasnya tiada kira. Diantaranya adalah nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan, sehingga pada hari yang penuh berkah ini kita dapat berkumpul di Majelis ilmu untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 Hijriah, dengan tanpa ada halangan yang berarti.
Nikmat Islam tidak akan sampai kepada kita tanpa hadirnya beliau kekasih Allah Nabi Muhammad SAW, dimana berkat keikhlasan dan cinta beliau, kita bisa menikmati bumi yang damai, masyarakat yang rukun, dan pola hidup yang teratur. Untuk itu marilah kita haturkan shalawat dan salam untuknya nabi akhiruzzaman. اللهم صلى على محمّد
Semoga kita tetap dalam barisan beliau sampai kelak di hari akhir. Amin.

Hadirin yang dirahmati Allah, perkenankanlah saya selaku pewara untuk membacakan susunan acara Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 Hijriah.
1.      Pembukaan
2.      Lantunan ayat-ayat suci Alquran
3.      Prakata Panitia Penyelenggara
4.      Sambutan-sambutan
5.      Istirahat
6.      Mauidhotulhasanah
7.      Penutup/Doa
Demikian serangkaian acara pada pagi hari ini. Seiring dengan berjalannya waktu, marilah kita mulai acara yang pertama yaitu pembukaan.

Dilanjutkan acara yang kedua, lantunan ayat-ayat suci Alquran yang akan dilantunkan oleh ……………………………………. Kepadanya dipersilahkan.
Kepada…………. Disampaikan terima kasih. Semoga dengan lantunan Kitabullah tersebut semakin membawa barokah untuk kita semua. Amin.

Memasuki acara yang ketiga, prakata panitia penyelenggara yang akan diwakili oleh……………………………. Kepada ……………………………………… dipersilahkan.
Kepadanya disampaikan terima kasih.

Selanjutnya, acara yang keempat sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama, sambutan dari Tokoh Masyarakat Desa Sembung yang akan diwakili oleh beliau Bp. …………………………………
Atas sambutan dari …………………………………… disampaikan terima kasih.

Sambutan yang kedua, sambutan Kepada Desa Sembung. Kepada beliau Bp. Suryanto kami persilahkan.
Kepada Bp.……………. Disampaikan terima kasih.

Sambutan yang ketiga, sambutan Muspika Kecamatan Banyuputih, yang akan diwaliki oleh……………………………………. Kepada yang kami hormati Bp.………………… waktu dan tempat dipersilahkan.
Kepada Bp.……………… kami sampaikan terima kasih. Semoga apa yang beliau sampaikan dapat bermanfaat.

Demikianlah sambutan-sambutan dari rangkaian acara hari ini. Sebelum menapaki acara selanjutnya yaitu mauidhohhasanah dari almukarom Bp. KH Azizudin Mujadzat Pekalonganan, marilah kita sejenak menikmati alunan musik dan syair yang syahdu dari Grup Qosidah Assalam Pekalongan. Kepadanya dipersilahkan.

Hadirin yang beriman dan bertaqwa, tibalah acara inti yang sangat dinanti-nanti, yaitu mauidhohhasanah …………………. ??? dari beliau almukaromwalmukhtarom Bp. KH  Azizudin Mujadzat saking Pekalongan. Tanpa mengurangi rasa hormat, Panjenenganipun Bp. KH Azizudin Mujadzat, wekdal soho panggenan kito sumonggoaken.
Panjenenganipun Bp. KH Azizudin Mujadzat saking Pekalongan kito aturaken matur suwun. Mugi-mugi mauidhohhasanah kesebut saged andadosaken iman lan taqwo kawulo lan panjenengan sedoyo soho kandel tur mantheb.

Melanjutkan acara yang terakhir yaitu penutup. Marilah kita tutup acara pringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 H dengan membaca hamdalah bersama. Alhamdulillahirobbilalamin…
Apabila dalam membawakan acara dari awal hingga akhir, terdapat kata-kata atau ucapan yang kurang berkenan, saya selaku pewara mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran bapak-bapak, ibu-ibu, para remaja, adik-adik dan semua hadirin. Semoga pengajian hari ini bisa bermanfaat fiddiniwaddunyakhatalakhiroh amin ya robbal alamin…

Bila ada sumur di ladang
Ngapain kita mandi di kali
Bila ada umur panjang
Semoga kita bisa pengajian lagi

Penutup

والسلام عليكم ورحمة الله و بر كاته




newer post

9.11.13

Resensi Film

0 komentar
Django, Negro Pembantai Kulit Putih
Judul Film      : Django Unchained
Genre             : Western, Action
Bahasa            : Inggris, Jerman
Produser        : Reginald Hudlin, Stacy Sher, Pilar Savone
Sutradara       : Quentin Tarantino
Penulis Script : Quentin Tarantino
Sinematografi: Robert Richardson
Pemeran         : Jamie Foxx (Django), Christoph Waltz (Dr. King Schultz), Leonardo DiCaprio (Calvin J. Candie), Kerry Washington (Broomhilda Von Shaft), Walton Goggins (Billy Crash), Don Johnson (Spencer 'Big Daddy' Bennett), Samuel L. Jackson (Stephen), Laura Cayouette (Lara Lee Candie-Fitzwilly), Dennis Christopher (Leonide Moguy), Cooper Huckabee (Roger 'Little Raj' Brittle), Doc Duhame (Ellis Brittle), M. C. Gainey (Big John Brittle), Tom Savini (Tracker Cheney), Bruce Dern (Curtis Carrucan), James Russo (Dicky Speck), James Remar (Ace Speck/Butch Pooch), Tom Wopat (Marshall Gill Tatum), Misty Upham (Minnie), Michael Bacall (Smitty Bacall), Robert Carradine (Tracker Lex), Rex Linn (Tennessee Harry), Ned Bellamy (Wilson), Franco Nero (Amerigo Vassepi), Sharon Pierre-Louis (Little Jody), Michael Parks, Jonah Hill (Randy (Bag Head #2))
Durasi             : 165 menit
Tahun Rilis    : 25 Desember 2012
Penghargaan :
-       American Film Institute Awards 2012 - Top Ten Movies of the Year - Django Unchained (Menang)
-       Boston Society of Film Critics 2012 - Best Supporting Actor - Christoph Waltz (Nominasi)
-       Broadcast Film Critics Association 2013 - Best Original Screenplay - Quentin Tarantino (Menang), Best Picture - Django Unchained (Nominasi)
-       Chicago Film Critics Association 2012 - Best Original Screenplay - Quentin Tarantino (Nominasi), Best Supporting Actor - Leonardo DiCaprio (Nominasi)
-       Penghargaan Golden Globe 2013 - Best Director - Quentin Tarantino (Nominasi), Best Drama Motion Picture - Django Unchained (Nominasi), Best Screenplay - Quentin Tarantino (Menang), Best Supporting Actor - Leonardo DiCaprio (Nominasi) - Christoph Waltz (Menang)
-       Hollywood Film Festival 2012 - Screenwriter of the Year - Quentin Tarantino (Menang)
-       Los Angeles Film Critics Association 2012 - Best Supporting Actor - Christoph Waltz (Nominasi)
-       NAACP Image Award 2013 - Outstanding Actor in a Motion Picture - Jamie Foxx (Nominasi), Outstanding Motion Picture - Django Unchained (Nominasi), Outstanding Supporting Actor in a Motion Picture - Samuel L. Jackson (Menang), Outstanding Supporting Actress in a Motion Picture - Kerry Washington (Menang)
-       National Board of Review 2012 - Best Film - Django Unchained (Nominasi), Best Supporting Actor - Leonardo DiCaprio (Menang)
-       San Diego Film Critics Society 2012 - Best Cinematography - Robert Richardson (Nominasi), Best Original Screenplay - Quentin Tarantino (Nominasi), Best Picture - Django Unchained (Nominasi), Best Supporting Actor - Christoph Waltz (Menang)
-       St. Louis Film Critics 2012 - Best Cinematography - Robert Richardson (Nominasi), Best Directorm - Quentin Tarantino (Nominasi), Best Lead Actor - Jamie Foxx (Nominasi), Best Music - Django Unchained (Menang), Best Original Screenplay - Quentin Tarantino (Nominasi), Best Film - Django Unchained (Nominasi), Best Scene - Django Unchained (Menang), Best Supporting Actor - Christoph Waltz (Menang)
-       Washington D.C. Area Film Critics 2012 - Best Original Screenplay - Quentin Tarantino (Nominasi), Best Supporting Actor - Leonardo DiCaprio (Nominasi)
Resensator     : Nur Fatimah (101211027)

Kebudayaan, inilah yang dimunculkan dalam film Django Unchained. Budaya perbudakan manusia kulit hitam yang penuh dengan kekejaman dan tak berperikemanusiaan. Perbudakan kulit hitam oleh kulit putih pada tahun 1800-an di Amerika Serikat adalah hal yang biasa.
Perdagangan budak yang berhubungan dengan nyawa manusia untuk ditukar dengan uang. Manusia tak ada bedanya dengan binatang. Lengkap dengan sertifikat dan tanda sah jual beli, maka dengan mudah kepemilikan manusia bisa berpindah-pindah dari tangan satu ke tangan lain. Perdagangan kulit hitam (Negro) adalah bisnis yang menjanjikan. Bagaikan aset kekayaan, semakin banyak budak yang dimiliki tentu semakin kaya. Pemiliknya boleh memperlakukan mereka dengan sesuka hati.
Kisah Django sebelumnya pernah difilmkan oleh Sergio Corbucci, dan inilah yang menginspirasi Tarantino. Tapi ia sama sekali tidak mengulang cerita yang sama, hanya mengulang kesuksesan yang hampir sama. Corbucci membuka Django dengan adegan Franco Nero yang menyeret-nyeret peti mati di atas tanah berlumpur ke sebuah kampung untuk mencari pembunuh istrinya, sutradara Tarantino memulai dengan sebuah adegan yang mengejutkan. Garis hitam panjang itu menampakkan diri sebagai barisan budak Afro-Amerika yang tertatih-tatih berjalan dengan punggung berdarah-darah bekas lecutan cambuk. Keduanya memiliki inti cerita dari kisah yang sama, yaitu Django yang ingin membela harkat sang istri.
Perjuangan Cinta dan Nyawa
Kisah romantika perjuangan cinta antara Django dan istrinya Broomhilda, diawali ketika keduanya terpisahkan setelah menikah di perkebunan Carrucan. Mereka berusaha kabur dan pemiliknya menyiksanya serta memberi tanda “r” di pipi Django dan istrinya. Akhirnya pemilik mereka mengirimkan keduanya ke pelelangan budak di Greenville dan menjualnya secara terpisah atau kepada orang yang berbeda dengan harga murah. Django dibeli oleh Speck bersaudara (Dicky Speck, Ace Speck), dan Broomhilda dibeli oleh Calvin J. Candie dan tinggal di Candyland, perkebunan kapas terbesar keempat di Mississippi.
Perjuangan dimulai di Texas, tahun 1858, 2 tahun sebelum perang saudara, ketika Dr. King Schultz, Bounty Hunter atau pemburu hadiah dari Jerman yang menukar mayat dengan uang, membeli Django dari Speck bersaudara (Dicky Speck, Ace Speck) karena dia tahu dan mengenali wajah Brittle bersaudara (Roger 'Little Raj' Brittle, Ellis Brittle, Big John Brittle), yang dulunya pengawas perkebunan Carrucan, dan sekarang menjadi gang pembunuh sadis yang diburu Schultz.
Dr. Schultz dan Django membuat kesepakatan di Daughtery, Texas. Intinya bahwa mereka bersepakat untuk bekerjasama menemukan Brittle bersaudara, dan jika berhasil sebagai upahnya adalah Django diberi kebebasan sepenuhnya dan uang 27 dolar.
Perjalanan pertama mereka menuju ke Tenessee, Gatlinburg. Untuk melancarkan aksinya, Django berubah karakter menjadi “Valet” (pelayan). Disana mereka menemukan Brittle bersaudara dan berhasil membunuhnya.
Mengetahui kemampuan Django, Dr. Schultz berniat melanjutkan kerjasama mereka hingga akhir musim dingin, dengan upah 1/3 untuk Django. Ia sepakat. Dr. Schultz juga berjanji membantu Django menemukan istrinya, karena ia bertanggungjawab atas kebebasan yang ia berikan.
Perburuan kedua yaitu membunuh Smitty Bacall dan The Smitty Bacall Gang. Mereka berhasil lagi. Setelah banyak keberuntungan, akhir musim dingin mereka turun dari gunung dan menuju ke Mississippi untuk menyelidiki keberadaan Broomhilda, istri Django.
Mereka menemukan kemungkinan keberadaan Broomhilda adalah di Candyland. Mereka kembali menyusun strategi. Dr. Schultz menyamar dengan karakter sebagai pembeli dengan uang besar dari Dusseldorf dan Django adalah ahli petarung mandingo (Eyed Charly).
Kepastian sudah mereka dapatkan. Broomhilda (Hildi) ada di Candyland. Pertama kali Django melihat, Hildi dalam keadaan mengenaskan. Ia masih tetap tenang.
Awalnya semua baik-baik saja. Calvin menerima mereka dengan baik dan mulai melakukan penawaran pada budak pertarungan Negro atau Eyed Charly. Tetapi Stephen, asisten Calvin, mencium dan mampu membaca permainan Dr. Schultz dan Django. Calvin marah, dan memaksa mereka membeli Broomhilda dengan harga 12.000 dolar.
Permasalahan muncul ketika Dr. Schultz tak mau jabat tangan dengan Calvin. Calvin tetap memaksa dan Dr. Schultz menembak Calvin. Pertempuran dimulai. Dr. Schultz tertembak dan mati. Django berjuang sendirian dengan terus menembaki orang-orang di rumah besar. Namun ia gagal. Stephen memberikan dua pilihan, menyerah atau Broomhilda mati. Django memilih menyerah.
Hukuman yang diterima Django adalah dijual ke pertambangan LeQuint Dickey Mining. Disana terkenal dengan perbudakannya yang sangat kejam. Tak jarang Negro yang dicambuk sampai mati, memasukkan Negro ke pertandingan Mandingo dan menjadikan Negro makanan anjing Stonesipher.
Dalam perjalanan menuju LeQuint Dickey Mining, karena kecerdikannya, saat istirahat di tengah perjalanan Django kembali beraksi. Ia bernegosiasi dengan tiga orang kulit putih yang menjaganya. Django menawarkan brosur buronan yang diberikan Dr. Schultz. Mereka tertarik dan sepakat, dengan kuda dan senjata sebagai upah Django. Saat senjata diterima Django, ia menghabisi tiga penjaga itu dan kembali ke Candyland untuk menyelamatkan Broomhilda. Dengan pistol di tangannya, Django menghabisi satu persatu orang-orang kulit putih yang selama ini menindas orang-orang kulit hitam. Candyland hancur, dan berakhirlah film ini.
Film-film koboi di Amerika Serikat sampai saat ini tak ada matinya. Dengan nilai rata-rata 8,2 dari 10 di situs Rotten Tomatoes, film Django Unchained mendapat respon positif dari para kritikus film. Dengan konflik yang sebenarnya sederhana yaitu seorang budak ingin menemukan istrinya dan menikmati kebebasan, film ini dikemas dengan apik oleh Quentin Tarantino.
Django Unchained bagus untuk ditonton semua kalangan kecuali anak-anak, karena ada beberapa adegan yang belum waktunya ditonton oleh anak-anak. Kisah percintaan antara Django dan Broomhilda, yang notabenya seorang Negro dan budak orang-orang kulit putih, menimbulkan masalah. Tetapi, karena kegigihan perjuangan keduanya, akhirnya film ini berakhir dengan bahagia.
Kelebihan film ini hampir semuanya tak ada kekurangan. Apalagi ketika dibandingkan dengan film-film Indonesia yang sejenis. Film Django Unchained cukup mewakili gambaran kehidupan dan budaya perbudakan di Amerika Serikat. Dari segi kostum hampir semuanya tak ada celah untuk mencari kekurangan. Satu lagi kelebihan film ini yaitu selalu to the point dan tidak berbelit-belit. Kemampuan komunikasi dan permainan otak, menjadi nilai tersendiri dalam film ini. Penonton tidak disuguhi hal-hal yang datar-datar saja, tetapi diajak berfikir untuk ikut mencari strategi atau pemecahan teka-teki disana.    
Menurut saya, kekurangan dalam film ini adalah penggambaran darah yang keluar ketika peluru mengenai atau menembus tubuh manusia. Entah untuk menggambarkan betapa kejamnya peluru-peluru itu atau apa, tetapi darah yang keluar terlalu mendramatisir, sehingga tidak terkesan alami.
Dari segi alur cerita, film ini cukup memuaskan. Hanya saja sedikit kejanggalan ketika Django, seorang budak, dalam sekejap memiliki kemampuan menembak yang sangat bagus. Ia juga pandai menunggang kuda. Padahal ia sejak kecil sudah menjadi budak, dan pada waktu itu tak ada seorang kulit hitam (Negro) yang boleh menunggangi kuda. Mungkin bisa digambarkan penyebab kemampuan itu, misal karena bakat atau pernah latian sebelumnya.
Samapi saat ini, berdasarkan sumber yang saya ambil, dengan prestasi film ini yaitu menang 12 kategori dan sebagai nominasi 21 kategori dari 12 ajang penghargaan, film Django Unchained kebanyakan menang dalam hal skenario. Karena keterbatasan sumber, resensator tidak bisa menemukan bagaimana bentuk skenario film ini sehingga belum bisa memberikan penilaian dalam hal skenario. Dilihat dari penulisnya, Tarantino bukanlah seorang penulis skenario pemula, sehingga kemampuannya memang tidak diragukan lagi. Prestasi lain yaitu dalam hal pemain pendukung. Cristoph Waltz, Leonardo DiCaprio, dan Kerry Washington adalah para aktor dan aktris yang sudah berpengalaman dalam dunia film. Acting mereka sangat maksimal. Prestasi lain yaitu dalah hal musik original yang dibuat khusus untuk menyertai film ini. Dan terakhir, Django Unchained juga berhasil menang sebagai Top Ten Movies of the Year dalam ajang American Film Institute Awards 2012.    
Dengan segala kelebihan dan kekurangan film ini, Django Unchained tak hanya mendapat respon positif saja. Di beberapa negara film ini tidak boleh ditayangkan di bioskop. Salah satunya di Cina, film ini dicekal karena Cina melarang film dengan genre kekerasan dan ekspolitasi seksual ditayangkan di bioskop. Padahal sebelumnya Tarantino sudah bekerjasama dengan sineas Cina agar filmnya yang terkenal dengan ultra kekerasan bisa tayang disana. Tarantino siap mengubah warna darah menjadi lebih gelap, tetapi Otoritas Cina malah meminta agar suaranya dihilangkan. Tetap saja pada akhirnya film ini tidak bisa ditayangkan di Cina.
Film ini memang mengundang kontroversi di beberapa negara. Sosok Django di film ini digambarkan seorang kulit hitam atau Negro yang membantai habis-habisan kulit putih. Bagi sebagian golongan, ini adalah bentuk pelecehan terhadap kulit putih.
Seiring ketenaran Django, bahkan di Indonesia sampai ada film bergenre komedi bertemakan Django dengan judul 3 Djanggo. Film ini dirilis tahun 1976 dan dimainkan oleh Benyamin S., Mansyursyah, dan Eddie Gombloh. Tetap saja, sosok Django adalah sang koboi yang memukau.


newer post
newer post older post Home